Wednesday, 20 June 2007

Bersyukur

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketSudah belakangan hari ini aku bawaannya bete terus, mau marah aja deh. Gak tau juga kenapa, apa memang lagi banyak pikiran tentang ketrima apa enggak di Universitas, apa juga stress karena bahasa Jerman yang susahnya minta ampun, apa kangen sama keluarga dan teman-teman di Indonesia, apa juga karena pra-DB...bisa jadi sih...kena PMS. Pokoknya sedikit masalah aja jadinya besar dan aku jadi kesel sendiri akhirnya. Contohnya kayak kemarin waktu ngerjain PR dari tempat kursus. Emang sih aku tuh paling gak suka kalo dapet PR buat bikin essay, dalam bahasa apapun, apalagi bahasa Jerman whoa paling enggak deh!!! Eh kemarin lagi dapet tugas bikin essay dan temanya tentang Mikroelektronik. Mampus deh. Mana pake grafik pula lagi. Bener-bener males deh. Semaleman aku plototin grafiknya ya ga dapet-dapet ilham juga tuh. Bener-bener payah deh. Aku bener-bener merasa bodoh banget! Rasanya makin hari belajar bahasa Jerman bukannya tambah pinter malah tambah dudut deh. Terus sudah 2 hari ini aku ketinggalan kereta terus, soalnya keretanya datang lebih awal 2 menit. Mana kalau mau naik kereta aku harus turun tangga dulu, kayak lewat lorong bawah tanah gitu, trus naik tangga lagi keatasnya...wah ngos-ngosan deh. Abis gitu naik kereta selanjutnya pake keretanya terlambat pula. Wah pokoknya ga tau deh gimana menjelaskan perasaan ini, mau teriak juga ga bisa. Aku ngerasa kalo belakangan ini aku tuh harus extra kerja dan berpikir keras untuk semua yang aku mau, sedangkan orang2 disekitarku dengan mudahnya mendapat apa yang mereka inginkan. Dunia ini memang tidak adil! Kalau sudah begini rasanya pengin pulang ke Indonesia, apalagi beberapa orang2 terdekatku disana sedang tertimpa kesusahan dan betapa inginnya aku untuk sekedar berada di sebelah mereka saat ini. Tapi ya apa daya, toh kenyataannya aku disini dan harus setiap hari juga tetap pulang pergi naik kereta Ingolstadt-München selama 2 jam untuk sekedar belajar bahasa Jerman, yang sumpah susahnya minta ampun!

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketTapi sudah 2 hari terakhir ini pula aku belajar untuk lebih lapang dada dan selalu "mencoba" untuk bersyukur. Walaupun susah aku berusaha untuk bersyukur dari waktu aku membuka mata dan untuk setiap jam, menit dan detik yang aku lewati. Aku sadar bahwa Tuhan Allah YME itu sungguh baik hati. Waktu chatting sama adikku saja kemaren, sebenarnya aku sudah diingatkan. Adikku saja bisa nasehatin aku supaya aku bersyukur atas segala yang aku punya saat ini. Temanku saja yang sedang tertimpa kemalangan bisa nasehatin aku untuk menjalani semua masalahku dengan lapang dada. Apa aku gak malu coba. Bahkan sudah 2 hari ini aku selalu ketemu sama anak cowok yang masih sangat muda tapi sayang dia buta. Setiap kali liat dia rasanya aku langsung mbrebes mili. Bener-bener gak tega lihatnya. Rasanya sih dia bukan dari München, karena sepertinya dia tidak terbiasa sama hiruk pikuk dan hectic-nya München. Sepertinya dia juga tidak terbiasa dengan petunjuk2 untuk orang-orang buta di stasiun München, karena dia pernah hampir saja terjatuh ke rel, untung aja ada Oma-oma baik hati yang sigap menolong. Dengan tongkatnya itu dia mondar mandir cari jalan bahkan untuk naik eskalator saja dia kesusahan. Coba deh, apa gak miris rasanya waktu aku ngeliat itu? Yah, memang dunia itu tidak adil, tapi kita tidak bisa menyalahkan siapa-siapa kan? Kita harus menerima dan menjalaninya dengan lapang dada dan selalu bersyukur. Akupun bersyukur diberi tubuh dan badan yang sempurna dan sehat, dengan itu aku bisa kuat bolak balik Ingolstadt-München tiap harinya dan juga bisa tiap hari menerima pelajaran bahasa Jerman. Aku bersyukur karena aku bisa diberi kesempatan belajar dan mungkin nantinya meneruskan studiku di Jerman, dengan begitu aku banyak belajar hal-hal baru. Dan mungkin juga hidupku akan jauh lebih mudah, apabila mulai detik ini aku selalu bersyukur.

In difficult times, it's so hard to look around and to see what to be grateful for. So every single day, I found something to be grateful for and that's a powerful lesson. Now I'm very grateful for everything that has happened in my life. (-Alice Barrett-)

Monday, 18 June 2007

Erics Geburtstag am 17. Juni 2007


Ini dia si Eric yang hari Minggu kemarin ulangtahun yang ke-3. Wah dia senang sekali karena dapat hadiah banyak. Dari mamanya dia dapat bak truk (itu yang dia dudukin), trus dari oma opanya (papa mamanya Steffen) dia dapet gawang buat main sepakbola, dari aku dan Steffen dia dapat seri lainnya DVD Maulwurf dan masih banyak lagi buku cerita dan mainan-mainan lainnya sebagai hadiah. Makanya dia begitu lihat aku datang langsung seru soalnya ada teman main hehehe. Bayangin aja, saking senangnya masa aku disuruh naik ke bak truknya itu juga. Dan terjadilah percakapan ini:
Eric: "Karolina, du kannst auch hier sitzen". (Carol, kamu bisa juga duduk disini)
Carol: "Es geht nicht, das ist so klein für mich". (Gak bisa, itu terlalu kecil buat aku)
Eric: "Nein, nicht klein. Du kannst auch mitfahren". (Enggak, gak kecil. Kamu bisa ikutan juga kok)
Carol: "Es geht nicht, Eric, ich bin zu groß". (Gak bisa, Eric, aku terlalu besar)

Perdebatan pun terjadi dan dia tetap ngotot, sampai akhirnya jurus terakhirku ku keluarkan yaitu "jurus mengancam" hehehehe. Aku pun berdiri diatas bak truk itu dan memperagakan bagaimana jadinya sambil berkata:
Carol: "Schau mal, ich will kaputt machen". (Lihat deh, tar aku bisa bikin rusak loh)
Akhirnya diapun nyerah hehehe. Takut juga kali ya???

Hari itu kita makan Schnitzel dan Asparagus. Kali ini aku bebas tugas di dapur soalnya sibuk mainan sama Eric. Hari itu dia gak bisa ditinggal. Baru bentar bantu goreng Schnitzel dia sudah jadi mandor di belakangku.
Eric: "Kommt, Karolina, spiele mit". (Ayuk, Carol, main bareng)
Carol: "Ja, gleich, wenn ich fertig bin". (Ya, bentar, kalau aku sudah selesai)
Eric: "Wann bist du fertig?". (Kapan kamu selesainya?)
Carol: "Ja, gleich, ok". (Ya, bentar, ok)

Akhirnya gantian aku yang menyerah, aku pun pamit meninggalkan pekerjaanku di dapur dan kembali ke kamarnya Eric. Yang lainnya cuma bisa ketawa-ketawa aja ngeliatin tingkahku sama Eric. Sedangkan mamanya Eric, Katrin, cuma bisa ngeledekin aku, katanya: Kayaknya kamu sudah cocok punya anak deh, Rol. Akupun cuma bisa senyum-senyum pahit.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Ini aku bersama Eric. Sibuk mainan nih ceritanya. Hehehe jadi inget masa-masa jadi guru playgroup dulu deh.



Kelar makan, kita berleha-leha di Balkon. Menikmati pemandangan dan cuaca yang cerah. Kebetulan juga si Katrin ini tinggal agak di pelosok desa. Kalau dari Ingolstadt sekitar 30 menit lah naik mobil. Tidak terlalu jauh sih. Aku suka sekali sama suasananya. Udaranya bersih dan rumah-rumahnya terbuat dari kayu. Akupun bisa santai karena Eric sedang tidur hehehe.


Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Sekitar jam 3 sore kitapun menikmati kue ulangtahun. Eric pun bangun langsung cari-cari aku. Pake acara ngumpet-ngumpet segala sih hehehe, tapi bukan dengan maksud menghindar, aku cuma pengen nggodain dia aja hehehe. 3 lilin ulangtahun dinyalakan dan diapun langsung meniup semua lilinnya dengan semangat. Horeee...Alles gute zum Geburtstag, mein Liebe Eric.

Saturday, 16 June 2007

Ke Deutches Museum

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket Hari Kamis tanggal 14 kemarin aku dan teman-teman kursusku pergi ke Deutches Museum. Ya itung-itung kayak study tour gitu deh, berhubung ruang kelasku dipake untuk Test DaF, jadi kita harus melangsungkan kursus di tempat lain. So akhirnya kita ke Deutches Museum. Yang datang gak banyak, cuma 7 orang. Ya sebenarnya aku sendiri juga sudah males, apalagi hari itu paginya agak-agak mendung. Enakan juga di ranjang, mlungker hehehehe. Tapi ya aku pikir juga kapan lagi masuk Deutches Museum gratis, dibayarin sama tempat kursusku, dan juga cari suasana baru lah. So aku memutuskan untuk berangkat juga ke München hari itu.
Menara jam yang menunjukkan pukul 9 pagi tepat.


Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketHari itu kita janjian jam 9 pagi di depan pintu masuk. Di kereta dalam perjalanan ke München, temanku Ieva, dari Lithuania, telpon. Dia ngajakin ketemuan di stasiun jadinya kita bisa barengan ke Deutches Museumnya. Waktu aku dan Ieva sampai disana sudah ada Vera, Natalie, Sabrina dan Rahman. Gak lama kemudian guru kita, Frau Maria Wolf, datang disusul oleh Pavlo. Biaya masuknya 3 Euro untuk student tapi kita tidak perlu bayar karena semua ditanggung tempat kursus. Tapi berhubung kita mau masuk Planetarium, akhirnya kita sepakat untuk nambah masing-masing 2 Euro untuk tambahannya. Planetariumnya baru buka jam 10 pagi, jadi sebelumnya kita masih ada waktu sekitar 1/2 jam untuk keliling.

Photo Sharing and Video Hosting at PhotobucketKemudian jam 10 kita masuk Planetarium. Filmnya berlangsung sekitar 45 menit. Cukup lama dan asyik juga. Walaupun aku sempet ngantuk dikit tapi overall seru kok hehehe. Dari situ kita menuju ke suatu kubah dan disana kita bisa melihat matahari dengan teropong besar. Ternyata matahari cuma kelihatan merah gitu aja ya hehehe. Petugasnya menceritakan bahwa matahari itu sebenarnya adalah bintang juga dan seperti bintang pada umumnya mereka itu terlahir sendiri dan dalam kurun waktu tertentu akan mati. Karena matahari itu merupakan bintang yang spesial (susah nih njelasinnya dengan bahasa Indonesia jadi aku tulis "spesial" aja ya hehehe) makanya dia bisa hidup lebih lama dari bintang normal lainnya. Tapi suatu saat matahari juga akan mati. Tapi tenang itu masih luaman buanget katanya. Terus aku mikir...kali itu yang dituliskan dalam Kitab Suci mengenai Apocalyptica alias kiamat...hiiiy jadi serem ihhhh.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Puas melihat matahari kita melanjutkan perjalanan dan sempat juga foto-foto. Ini aku sama Pavlo, dari Ukraina, foto di depan rumah-rumahan.

Photo Sharing and Video Hosting at Photobucket
Berhubung sepi sempat juga kita foto bersama sekali. Sekalian mengabadikan hari itu hehehehe. Didepan dari kiri ke kanan: Natalie (Rusia), Vera (Rusia), Sabrina (Italia), Fr. Maria Wolf (guruku), Rahman (Indonesia). Dibelakang: aku, Pavlo (Ukraina) dan Ieva (Lithuania).